Saham Delisting, Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Investor?

Delisting: Solusi untuk Para Investor Saham

Setiap kali ada kabar seputar saham penghapusan pencatatan saham suatu emiten di bursa (saham delisting).

Kita sebagai investor pemilik saham seringkali langsung panik.

Padahal panik tidak akan menyelesaikan masalah.

Sebenarnya, apa yang harus dilakukan investor ketika saham delisting?

Pertama-tama, kita harus memahami dulu mengapa suatu saham mengalami delisting.

Jenis-jenis Delisting

Beragam faktor yang menyebabkan saham delisting.

Sebagai konsekuensi dari pencatatan saham yang dihapus,

Maka, statusnya akan berubah dari perusahaan terbuka menjadi perusahaan Tertutup

Ada dua jenis delisting, yaitu:

1. Forced Delisting (Delisting Paksa)

Yaitu, delisting yang dilakukan oleh otoritas bursa (BEI) berdasar aturan yang berlaku.

Misalnya, karena saham sudah disuspensi dua tahun berturut-turut.

Penyebab adalah beberapa alasan berikut:

Karena:

1. Tidak menyampaikan laporan keuangan.
2. Keberlangsungan bisnis perusahaan dipertanyakan.
3. Tidak ada penjelasan.

Biasanya perusahaan yang sahamnya didelisting paksa adalah perusahaan yang bermasalah.

Investor saham yang memiliki saham yang delisting paksa biasanya dirugikan.

2. Voluntary Delisting (Delisting Sukarela),

yaitu emiten sendiri yang mengajukan delisting karena alasan tertentu. Misalnya karena kehendak pengendali baru, akibat merger, atau alasan lainnya. Delisting sukarela biasanya dipandang positif. Pemegang saham tidak perlu khawatir, karena ada kewajiban untuk menyerap saham di publik pada harga yang wajar. Biasanya harganya cenderung lebih tinggi daripada harga pasar

Apa itu Delisting?

Delisting adalah penghapusan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Setelah delisting, saham tidak bisa ditransaksikan di BEI.

Status perusahaan yang telah delisting biasanya tetap menjadi perusahaan publik tapi sahamnya tidak tercatat di BEI.

Perusahaan yang sahamnya sudah delisting, tidak lagi memiliki kewajiban sebagai perusahaan tercatat.

Kendati demikian, perusahaan tersebut diperbolehkan untuk kembali mencatatkan sahamnya di BEI sesuai ketentuan yang berlaku (relisting).

Relisting bisa dilakukan 6 bulan usai delisting efektif.

Tips

Pertanyaan adalah:

Apa yang sebaiknya dilakukan investor yang sahamnya terkena force delisting?

Ada tiga hal yang bisa dilakukan investor (kita) yang sahamnya terkena force delisting:

1. Investor Bisa Membiarkan Sahamnya (HOLD)

Perusahaan yang delisting biasanya tetap menjadi perusahaan publik dan bisa relisting lagi walaupun kecil kemungkinan untuk relisting lagi.

Saham milik investor masih ada.

Cuma…

…biasanya perusahaan yang delisting paksa adalah perusahaan bermasalah.

Kemungkinan bisa jadi akhirnya tidak jelas pada perkembangan perusahaannya atau bahkan bangkrut.

Dan saham tidak ada nilainya (value) lagi.

2. Investor bisa menjual saham tersebut di pasar negosiasi.

BEI akan membuka suspensi saham yang akan delisting dalam waktu tertentu, biasanya beberapa hari.

Namun, suspensi hanya dibuka di pasar negosiasi.

Di dalam rentang waktu tersebut investor disarankan menjual saham tersebut.

Celakanya saham yang akan delisting biasanya adalah perusahaan bermasalah yang harga sahamnya anjlok di pasar negosiasi.

Bahkan kalau mau jual pun belum tentu ada yang mau beli.

Ilustrasi

Sebagai contoh saham TRUB delisting di 12 September 2018.

Harga sahamnya di pasar reguler adalah Rp 50 (tersuspen).

Investor bisa menjual sahamnya di pasar negosiasi sampai tanggal 10 September.

Tapi kalau kita lihat harga di pasar negosiasi cuma 1 rupiah per lembar saham

3. Belajar dari Kesalahan Saham Calon delisting paksa

Sudah banyak saham di BEI yang terkena force delisting, misalnya:

  • CPGT (PT. Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk.),
  • INVS (PT. Inovisi Infracom Tbk),
  • TRUB (PT. Truba Alam Manunggal Engineering Tbk.),
  • BRAU (PT. Berau Coal Energy Tbk.),
  • TKGA (PT. Permata Prima Sakti Tbk),
  • DAVO (PT Davomas Abadi Tbk),
  • ASIA (PT. Asia Natural Resources Tbk),
  • CPDW (PT. Indo Setu Bara Resources Tbk),
  • IDKM (PT. Indosiar Visual Mandiri),
  • INCF (PT. Indo Komoditi Korpora Tbk),
  • KARK (Konsorsium Asuransi Risiko Khusus),
  • PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia),
  • PWSI (PT. Panca Wiratama Sakti Tbk),
  • SAIP (PT. Surabaya Agung Industri Pulp & Kertas Tbk),
  • MBAI (PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk),
  • RINA (PT Katarina Utama Tbk),
  • SIIP (PT Suryainti Permata Tbk),
  • SIMM (Surya Intrindo Makmur) dan lain sebagainya.

Biasanya investor nyangkut di saham-saham ini karena tergiur untung besar, lalu sahamnya disuspensi dan akhirnya delisting.

Kesimpulan

Jika kita perhatikan investor yang memiliki sahamnya kena delisting paksa, umumnya akan rugi besar.

Itulah risiko yang harus ditanggung sebagai investor saham.

Nah, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Lebih baik adalah jangan sampai membeli saham yang berpotensi delisting paksa.

Caranya sebenarnya mudah.

#1. Jangan membeli saham hanya karena harganya murah.

#2. Gunakanlah Analisis Fundamental untuk memilih saham terbaik.

Saham yang fundamentalnya baik, secara:

  • Laporan keuangan,
  • Manajemen, dan
  • Memiliki tata kelola yang baik (GCG / Good Corporate Governance).

Tips di atas, biasanya bukan saham calon delisting paksa.

Referensi:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *